Tulisan Terbaru

Tautan

logougm-150  MMUGMSidebar150

“Hengkie“ yang tetap Merakyat

Sri Sultan HB VIII (duduk) diantara sebagian putra- putranya. GRM Dorodjatun (kedua dari kiri)

Karakter yang kuat dari seorang Raja dan sekaligus seorang pejuang rakyat terlihat dari apa yang disabdakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.”Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, tetapi pertama- tama saya adalah dan tetap orang Jawa”. Pidato ini disampaikan setelah penobatan Beliau sebagai Sultan/ Raja Ngayogyakarta Hadiningrat tanggal 1 Maret 1940 (Senin Pon, Wuku Galungan, 8 Sapar tahun Dal 1871)

Pembentukan karakter Gusti Raden Mas (GRM) Dorodjatun telah terbentuk dan terus ditanamkan oleh ayah Beliau Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yaitu dengan kemandirian, tanggungjawab, kedisiplinan, empati, kepemimpinan, cinta tanah air dan sebagainya. Pendidikan kultur kraton yang terbayangkan dalam benak kita adalah yang selalu dilayanani, dihormati, disanjung dan bahkan disembah berbalik 180 derajat dengan keseharian Dorodjatun. Sejak dari kecil sudah disekolahkan dengan memondokan (dikostkan: mengambil istilah mahasiswa sekarang), sudah pasti layanan layaknya keluarga keraton tidak ia dapatkan yang menjadikannya bisa lebih survieval menghadapi semua persoalan dengan kemandirian dan kematangan. Hengky (begitu sapaan beliau saat disekolah) kecil dapat menyelami keadaan rakyat maupun bisa berkaca terhadap gemerlapnya kehidupan pemuda dan noni- noni belanda.

Photobucket

Pemerhati Kebudayaan

Sebagaimana kita mengetahuinya bagaimana peran beliau dalam pergerakan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Ide cemerlang Sultan untuk memindahkan Ibukota negara ke Yogyakarta (Januari 1946) setelah Jakarta ditaklukan oleh Belanda, jelas bukan saja tempat/ fasilitas yang Beliau berikan tetapi menanggung semua gaji pejabat negara, selama 4 tahun ..!!! (4 Januari 1946-27 Des 1949). Hal sangat jarang ditemui pada saat ini. Iming- iming kekuasaan dari penjajah belanda maupun jepang terhadap kekuasaan atas beberapa wilayah jawa seperti: Kedu, Banyumas, Pekalongan dan sebagainya asalkan mau bekerjasama dengan penjajah tidaklah menjadikan Beliau silau dengan itu. Rasa cintanya kepada rakyat indonesia yang mendorongnya untuk selalu konsisten terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Karakter mandiri yang ditunjukan Sultan HB IX adalah saat beliau menjabat Menteri Negara semasa pemerintahan Bung Karno, dengan jabatanya sebagai raja Ngayogyakarta Beliau selalu bolak- balik Jakarta- Jogja dengan menyetir sendiri kendaraannya. Tanpa patwal dan tanpa ajudan, wujud kesederhanaan dan pengabdian yang perlu dijadikan contoh kita sebagai generasi penerus bangsa. Walaupun saat itu memang masih sangat langka kendaraan yang lalu-lalang sangat bertolak belakang dengan kondisi sekarang sekelompok pejabat yang melakukan perjalanan dinas atau Bapak menteri yang terhormat melaju dikemacetan jalan di Jakarta bagaikan si raja jalanan melenggang tanpa memperdulikan ada ambulan yang membawa ibu yang akan melahirkan, wujud arogansi patwal.

Berprinsip kedaulatan rakyat tetapi tetap berbudi bawa leksana. Menyelami aspirasi kehidupan rakyat sebagai raja bukan hanya duduk di Singgah sana tetapi terjun langsung, sebagai mana beliau membantu seorang penjual sayur dengan bukan hanya memberikan tumpangan tetapi ikut membantu menaikan dan menurunkan kembali. Suatu hal yang menginspirasikan kepada kita bahwa kesetaraan sebagai manusia bukan lagi antara rakyat dan penguasa bahwa kita sama sebagai mahluk yang diciptakan oleh yang Maha Mencipta. Kekuasaan/ jabatan adalah sebagai sarana dan wujud untuk mencapai kemanfaatan diri.

Photobucket

Gerbang Universitas Negeri Gadjah Mada (Koleksi Arsip UGM)

Patuh pada hukum itulah yang Beliau tunjukan saat mengendarai mobilnya dan tanpa sengaja karena terburu- buru ada acara di Tegal, dengan konsekuen karena melanggar jalan satu arah, dengan sukarela Beliau menyerahkan surat kendaraan (rebuwes) kepada petugas. Bukan hanya terhadap hal yang kecil seperti ini saja Beliau menerapkan aplikasi kepatuhan terhadap hukum terhadap hal yang lebih besar, politik kenegaraan, Beliau tidak bersedia dicalonkan lagi sebagai wakil presiden untuk periode yang kedua kali karena indikasi yang tidak beres terhadap kepemimpinan Suharto saat itu.
Wujud dedikasi beliau terhadap negara untuk kemajuan bidang pendidikan, pengentasan kebodohan, ketebelakangan kemiskinan merelakan tanah kraton untuk didirikan beberapa sekolah dan perguruan tinggi, salah satunya adalah UGM. Disaat ini banyak pejabat mengumpulkan uang dan tanah dimana- mana untuk sangu (bahasa jawa: Bekal) setelah pensiun atau tidak menjabat namun beliau menawarkanya. Bahkan kraton pun dijadikan tempat perkuliahan saat terjadinya agresi militer belanda.

“Sepi ing pamrih”…Ketika ditanya oleh Putra Beliau (Sultan HB X) Sultan Ngayogyakarta sekarang . “Apakah Bapak pernah menulis catatan semacam otobiografi? Atau apakah boleh saya wawancara, saya rekam dari rekaman itu saya tulis nanti. Kalau Bapak setuju diparaf saja?” Di jawab oleh Sultan HB IX, “Kalau setuju, lalu dipakai untuk apa?” Dan beliau meneruskan dengan “Selama saya hidup apa yang harus saya lakukan sudah saya lakukan untuk perjuangan bangsa dan negara saya…ya sudah selesai ya selesai”. Jadi bagaimana beliau diminta untuk menuliskan otobiografinya saja tidak bersedia, yang penting adalah tindakan bukan bicara. Walaupun sekarang (tahun 2012) telah diluncurkan sebuah buku tentang beliau bertepatan dengan peringatan seabad HB IX, tapi ditulis oleh orang diluar kraton. Bagaimana sekarang ? Bapak camat saja menerbitkan otobiografinya sendiri…..!!!

Bapak Pramuka

Dan pengakuan menjadi Bapak Pramuka Indonesia sebagai hal yang tidak dapat disangsikan lagi bahwa keteladanan beliau seharusnya menjadi inspirasi bukan hanya bagi generasi muda saja tetapi bagi para pejabat negara, pejabat politik, pejabat akademisi untuk berkaca apa yang sudah selayak kita berikan kepada negara bukan apa yang telah negara berikan. Semoga bermanfaat.

Penulis didepan R.Kelas tempat Perkuliahan Perdana UGM (Kraton Ngayogyakarto)

Referensi :
1. Koran Kedaulatan Rakyat, Kamis Legi 12 April 2012 (20 Jumadilawal 1945) Halaman 11 -15
2. Tim Kompas.2012. Sepanjang Hayat Bersama Rakyat. Penerbit Buku Kompas
3. Mohamad Roem, Mochtar Lubis, Kustiniyati Mochtar, S. Maimoen. 1982. Tahta Untuk Rakyat (Celah- celah kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX).Gramedia. Jakarta
4. Jogjakini.wordpress.com

42 comments to “Hengkie“ yang tetap Merakyat

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>