Tulisan Terbaru

Tautan

logougm-150  MMUGMSidebar150

Patriotisme dan Integritas

Jenderal Sudirman setelah operasi operasi paru-paru di Rumah Sakit Pantih Rapih Djogyakarta Nopember 1948 (arsip Musium Jenderal Sudirman Purbalingga)

Panglima Besar Jenderal Sudirman, tokoh yang dikenal sebagai penggagas perang gerilya ini, dilahirkan di Desa Bodas, Karangjati, Purbalingga Jawa Tengah. Berlatar belakang pendidikan guru (guru HIS Muhammadiyah di Cilacap dan aktif kepanduan Hizbul Wathan) sebelum beliau terpanggil untuk berada digarda terdepan melawan penjajah melalui PETA. Pada umur yang masih muda 31 tahun beliau mendapat pangkat kemiliteran tertinggi Jenderal. Sebagai Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia (TNI) Pertama dan Tertinggi dengan Gelar Jenderal Besar (Berbintang 5). Beliau Merupakan salah satu tokoh penting yang pernah dimiliki negeri ini. Dia pejuang dan pemimpin teladan bangsa, meskipun dalam keadaan sakit beliau tetap memimpin dalam keadaan ditandu. Pribadinya teguh pada prinsip, keyakinan dan selalu mengedepankan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan pribadinya.

Pendidikan agama yang ditanamkan kedua orang tua Sudirman inilah sebagai pembentuk watak satria, luhur, berbudi, tidak silau terhadap keduniawian. Pernah menjadi santri di sebuah Pondok Pesantren di Banjarnegara tepatnya di Desa Binorong Banjarnegara berguru pada KH.Busyro Syuhada. Sudirman muda menempa diri ilmu dunia dan akhirat serta bela diri.

Sejak dari tingkat pendidikan dasar hingga menegah (Milo), belum menampakkan tanda- tanda, watak dan pribadinya tidak banyak menarik perhatian, baik dari kawan – kawan siswa maupun orang lain. Sifatnya yang pendiam, tidak banyak membawanya ke dalam pergaulan. Ditambah lagi berbadan kurus, kulit hitam sawo matang hingga beliau tidak begitu menarik. Selepas tamat dari sekolah Mulo beliau melanjutkan di sekolah guru Muhammadiyah. Jiwa Islam yang kuat mendorong beliau masuk ke Muhammadiyah, dari situlah Sudirman mulai berkecimpung di tengah masyarakat., aktif kepanduan Hizbul Wathan. Beliau mulai terkenal sebagai seorang yang tenang, visioner, rendah hati dan pandai membawa diri dalam pergaulan.

Pada tahun 1944 Sudirman mulai masuk tentara PETA. Beliau menjabat sebagai Daidanco di Kroya. Setelah mendapat pangkat itu beliau ingin mewujudkan cita – citanya yaitu kemerdekaan tanah air, dan akhirnya mau tak mau beliau harus berjuang melawan penjajah dengan mengangkat senjata. Untuk mewujudkan cita – citanya, Sudirman mulai mendidik para pemuda dengan memasukkan semangat cinta tanah air. Beliau ingin membentuk satu tentara rakyat yang revolusioner untuk kemuliaan tanah tumpah darah tercinta.

Gerak – gerik Sudirman rupanya tercium oleh Jepang, untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan beliau dipindahkan ke Bogor. Pada waktu penyerahan Jepang kepada Sekutu, Sudirman ditangkap oleh kompeni. Tak lama, beliau dibebaskan karena kekalahan Jepang dari Sekutu. Selepas dari tahanan Sudirman pulang ke Banyumas. Kemudian beliau mengumpulkan anak buahnya yang tergabung di PETA dan disiapkan untuk perang kemerdekaan.

Sebagaimana diketahui, revolusi Indonesia meletus. Disana – sini terjadi pertempuran maha dashyat, merebut kekuasaan dari Jepang. Seluruh Indonesia bergolak. Sudirman tampil ke muka dengan jiwa yang besar. Di Kroya, Sudirman dengan bala tentaranya mengepung tentara Jepang yang bersenjata lengkap, hingga tentara Jepang menyerah. Setelah peristiwa itu nama Sudirman berkibar, rakyat banyak yang mengikuti perjuangannya. Semua senjata hasil rampasan dipergunakan untuk mempersenjatai tentaranya.
Setelah sukses di Kroya, Sudirman melanjutkan aksi ke Purwokerto. Terjadilah pertempuran sengit, tapi beliau tetap menang dan Jepang menyerah. Semua senjata Jepang dirampas untuk memperkuat tentaranya.

Ketika pertempuran Semarang meletus, Sudirman mengatur barisan di daerah Kedu. Beliau bertambah kuat dan hatinya semakin mantap untuk berjuang melawan penjajah. Ketika tentara Inggris menyerbu dari Semarang ke Ambarawa, Sudirman menghadapi tentara gabungan itu dengan gagah berani. Terjadilah pertempuran dashyat, dan akhirnya untuk kesekian kalinya Sudirman memenangkan pertempuran, dan musuh dapat diusir kembali ke Semarang.

Sejak saat itu nama Sudirman sangat terkenal. Karena kemenangan yang berturut – turut, dan kegemilanganya mempertahankan Ambarawa dari serbuan tentara Sekutu, tidaklah berlebihan jika Presiden Soekarno mengangkatnya menjadi Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia.

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>