Tulisan Terbaru

Tautan

logougm-150  MMUGMSidebar150

Manajemen Kompensasi vs local wisdom

Derasnya arus modernisasi diberbagai bidang telah membawa dampak perubahan yang cukup signifikan terutama terkait dengan rasa kebersamaan, kegotongroyongan berubah menjadi rasa individualistik.

Kegotongroyongan sebagai nilai-nilai kearifan lokal atau local wisdom semakin ditinggalkan bahkan kalau bisa dikatakan telah hilang di tengah masyarakat kita. Suka ataupun tidak suka kita masih disebut sebagai orang timur yang menjunjung nilai- nilai kepentingan komunal yang dulu sebagai cadangan hidup bersama di suatu daerah telah berganti menjadi nilai-nilai individual.

Istilah wong ndeso, bali ndeso mbangun ndeso yang menjadi icon jawa tengah terutama oleh Gubernur Bibit Waluyo, sebenarnya bisa menjadi wahana dikembangkan dan ditanamkannya sebuah tatanan yang mengedepankan kebersamaan. Suatu tradisi/ kebiasaan pada  falsafah hidup yang saling membantu, bergotong-royong, yang kuat membantu yang lemah, bahkan secara lebih luas tercakup dalam makna “persatuan dan kesatuan”. Berbagi pengetahuan (sharing knowledge) sebagai upaya pemberdayaan (empowerment) masyarakat perlu konstribusi nyata lintas sektoral dan multi dimensi.

Buku- buku barat yang banyak beredar diindonesia, yang menjadi rujukan perguruan tinggi terutama jurusan ekonomi sedikit banyak telah ikut andil dalam mengikis sebuah nilai-nilai kearifan lokal. Salah satu topik adalah tentang manajemen kompensasi….Sebenarnya sebuah kegiatan pasti ada kompensasi terhadap diri maupun lingkungan. Adopsi dari sistem bisnis ini banyak sekali mudhorotnya jika diimplementasikan dalam kegiatan kemasyarakatan/ sosial….bagaimana sebuah kegiatan terukur dengan nilai- nilai uang. Ini yang akan meruncingkan sebuah persaingan, alih- alih mendapatkan bonus sehingga rela menjegal, menyikut, bahkan berdampak pada sosial kemasyarakatan….tawuran, perkelahian antar pelajar, kerusuhan antar etnis…berawal dari permasalahan yang sepele bukan? Sikap cuek acuh tak acuh terhadap lingkungan….tidak ikut ronda kompensasinya bisa bayar, tidak ikut kerigan (gotong-royong) mbangun masjid karena yang penting sudah membayar….dan masyarakatpun mengiyakan…klop sudah…Itu bagi yang punya uang. Bagaimana dengan yang tidak punya uang (miskin)…Semua harus ada uangnya…bahkan sampai ke politik. Hanya amplop Rp.10.000,- bisa merubah peta politik indonesia. Tanpa memperhatikan kenal/ paham ndak dengan calon presiden/ bupati/ dewan…jika sudah mendapat amplop pastilah pilihannya. Nilai- nilai yang luhur yang tidak dapat diganti dengan uang sekalipun dari gotong royong adalah rasa berbaur sesama masyarakat lain/ sosialisasi. Segala sesuatu didalamnya dapat kita diskusikan  melalui gotong royong, segala ide dapat kita tuangkan, sehingga perencanaan-perencanaan demi kemajuan bersama akan kita capai dengan kesepakatan bersama/ musyawarah mufakat sehingga terhindarkan sistem yang sedang ngetren sekarang yaitu voting. Dalam musyawarah mufakat tidak adalagi istilah oposisi. Nilai yang luhur lainnya adalah mempererat hubungan silaturahmi.

Bagaimana pendiri bangsa ini menanamkan nilai2 kebersamaan sebagai fondasi untuk merebut kemerdekaan…wah kuno? Saya rasa sangat relevan dan tidak kuno. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah menumbuhkan integrasi nasional melalui revitalisasi gagasan (mutualisme, musyawarah dan mufakat, kesetaraan) dan nilai-nilai agama (kasih sayang, damai, keadilan dan persatuan) dalam ruang lingkup pergaulan sesama karena pluralistik dan multikultural sehingga terjaga integrasi nasional.

7 comments to Manajemen Kompensasi vs local wisdom

  • LupittaChopraa

    sekarang untung mengembangkan gotong royong kembali sangat susah. sudah banyak kepentingan yang berorientasipada kapital dari pada wilayah sosial

    • sarastiana

      Ada kemungkinan bisa, dilandasi oleh komitmen semua pihak….Saya teringat waktu masih kecil sering mendengar adanya istilah Bulan Amal Bhakti Gotong- Royong ….Sebenarnya kriteria maju bukan berarti harus meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.Ukuran maju pemahaman pemerintah dan masyarakat hanya sebatas penggunaan teknologi..

  • Konpensasi tidak selalu membawa kebaikan, itu betul. Maka, agar tidak terjadi konflik perlu dikelola secara baik. Itulah perlunya manajemen konpensasi, barangkali ini dalih yg bisa dikemukakan. Namun, saya pikir, tindakan yg lebih menjunjung kearifan adalah memandang persoalan ini secara proporsional, dalam bahasa agamanya “berkeadilan”. Konpensasi bisa digunakan utk menstimulus orang agar bersemangat dlm bekerja. Sayangnya, gara2 konpensasi orang bs melakukan apa saja, termasuk berbuat curang, culas, atau menghalalkan segala macam cara. Oleh karena itu, biar itu tdk terjadi seseorang perlu disentuh akidahnya atau dikuatkan motivasi ke-akhiratannya. Semoga dengan tindakan ini, ia akan kembali ke jalan yang benar, hahaha

  • Arsida

    keikhlasan pakai tingkatan khan yaaa….boleh kita berharap dibalik apa yang kita kerjakan ada suatu imbalan LHO? Nah kalau dah tingkat mengahrap hanya Keridhloan-Nya, dah tertinggi tuh tingkatan ikhlasnya.

Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>