Tulisan Terbaru

Tautan

logougm-150  MMUGMSidebar150

Kreativitas dalam Sepotong Roti

Dalam setiap pertemuan Dosen yang satu ini selalu menanyakan: ada setoran?, ada yang mau setor? Beliau memotivasi kepada kami untuk menulis, agar tulisan itu bermanfaat bagi orang lain dan diri maka sebisa mungkin artikel tersebut dapat dimuat di media cetak (koran/ jurnal). Dan gayung pun bersambut, sudah banyak artikel dari kami yang telah ditayangkan di koran, hampir 50% dari kami yang sudah bisa dimuat. Baik koran lokal maupun koran nasional.
Bercerita tentang kreativitas yang lain, Bapak Dosen yang baik hati, Bapak Dr.Mahfud Solihin PhD….Beliau baru dari Jepang dan membawakan oleh- oleh untuk Kami (Kelas Ethical Leadership MMUGM),bentuk roti yang sangat menarik. Suatu krativitas yang sangat tinggi…dari sebutir kacang dan sebatang roti yang dikemas dengan plastik bergambarkan wanita/ pria yang berbusana Jepang, hasilnya…satu bentuk yang sangat menarik yang tentu akan menambah minat membeli bagi siapa yang melihatnya.
UntitledatomRotiJepangUntitledJepangUntitled
Membangun krativitas oleh jepang, dengan membangun 5S:
1. Seiri (Ringkas)
2. Seiton (Rajin)
3. Seiso (Resik)
4. Seiketsu (Rawat)
5. Shitsuke (Rajin/ disiplin)
Apa yang diharapkan untuk Bangsa Indonesia? Harus dibangun Budaya…Manajemen Merah Putih yang diusulkan oleh Bapak Dr.Wahid Slamet Ciptono, MBA, MPM. Bukan color yang ditonjolkan tetapi semangat merah putih itu yang sudah muncul sejak dahulu….Tentang Manajemen Merah Putih akan dibahas pada artikel berikutnya.

Siklus Manajemen Pengetahuan

Pengetahuan individu, kelompok dan organisasi dikaptur, diciptakan, dikodifikasi, dibagi, diakses, diaplikasikan dan digunakan ulang dalam siklus manajemen pengetahuan.

Manajemen pengetahuan yang efektif membutuhkan organisasi untuk mengidentifikasi,mengeluarkan, meraih, memadukan, dan memperoleh manfaat dari pengetahuan yang memberikan keuntungan strategis bagi organisasi.

Tujuan utama proses manajemen pengetahuan adalah mengidentifikasi, menempatkan sumber-sumber pengetahuan dan pengetahuan dalam organisasi. Selengkapnya Baca → “ Siklus Manajemen Pengetahuan

Organik atau Mekanis

Tidak ada definisi TQM yang diterima secara universal selama ini. Namun menurut Miller 1996 TQM adalah pproses berjalan dimana top managemen melakukan langkah apa saja yang diperlukan untuk membantu semua orang di organisasi dalam melaksanakan tugasnya untuk mencapai standar yang bisa memenuhi atau bahkan melebihi kebutuhan dan harapan pelanggannya, baik internal maupun eksternal.

TQM juga menuai kritik, khususnya terhadap ketiadaan karya empiris dan teoritis terhadap unsur-unsur kunci dari filosofi. Penelitian yang dilakukan oleh beberapa ahli tidak bisa menunjukkan bahwa organisasi dengan TQM tidak lebih baik dengan organisasi tanpa TQM. Sebaliknya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa TQM juga bisa menghasilkan keuntungan kompetitif bagi perusahaan.

Pendekatan organik dan mekanis dari TQM menurut Spencer 1994 TQM adalah praktek managemen komprehensif yang menangkap sinyal-sinyal model organisasi dengan menyediakan metodologi untuk penggunaanya. Lebih lanjut Spencer mengajukan 7 dimensi doktrin utama dari metodologi ini, yaitu: tujuan organisasi, kualitas definisi, peran dari lingkungan, peran dari managemen, peran dari karyawan, rasionalitas struktural dan filosofi terhadap perubahan. Selengkapnya Baca → “ Organik atau Mekanis

Equality vs Equity

Equality dalam Kamus Inggris Indonesinya John M. Echol berarti persamaan (hak), sedangkan Equity berarti keadilan. Jadi Ekualitas dan ekuitas secara umum dapat diartikan sebagai persamaan hak dan keadilan.
Di dalam ekualitas dan ekuitas terdapat 4 (empat) paradigm, yaitu :
1.Paradigma Etika Keadilan, yaitu untuk dapat berbuat adil, kadang-kadang seseorang harus memberikan perlakuan khusus pada sekelompok orang atau individu,
2.Paradigma Etika Perhatian/Kepedulian, yaitu ketidakberpihakan kepada individu atau kelompok dengan alasan apapun dalam mengambil keputusan,
3.Paradigma Etika Kritik, yaitu untuk memberikan kritik kepada orang lain, faktor demografi harus diperhatikan,
4.Paradigma Etika Profesi, yaitu lembaga pendidikan harus dapat berada di tengah-tengah dalam memberikan perlakuan tanpa merugikan pihak lain.

var docstoc_docid=”120986941″;var docstoc_title=”Akses Pengetahuan”;var docstoc_urltitle=”Akses Pengetahuan”; Akses Pengetahuan