Tulisan Terbaru

Tautan

logougm-150  MMUGMSidebar150

DPR, Tanda Bintang dan Ruang Abu- abu

Semoga ini awal reformasi yang sebenarnya dari bentuk2 pembenahan penyelewengan dana. Berdalih masih terdapat kekurangan: manajerial, kedua efisiensi dan ketiga ada anggapan KPK adalah lembaga Ad Hoc, pengajuan anggaran oleh KPK untuk sarana prasarana gedung baru tidak disetujui, diberilah tanda bintang, yang berarti tidak dapat dicairkan. Yang menjadi pertanyaan tanda bintang tersebut tidak ada dasar hukumnya. DPR sebenarnya akan bermain disini dengan menciptakan ruang abu- abu (lobi, yang berujung pada pemberian fee). DPR ibarat terkena batunya sekarang, sebuah lembaga seperti KPK lah yang berani mengungkapkan ini ke publik . Apakah selama ini lembaga/ departemen2 juga mengalami seperti itu……menurut Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Fitra) sebagaimana diungkapkan dalam sebuah acara di TV terdapat 1000 bintang yang diberikan DPR terhadap usulan anggaran yang diajukan oleh lembaga, departemen atau kementrian. Disinilah letak kebocoran anggaran dari awalnya… Fee untuk meloloskan pengajuan anggaran di DPR yang dilakukan oleh lembaga, departemen atau kementrian. Yang katanya sudah menjadi rahasia umum.

Masih lekat dalam ingat kita bagaimana DPR dengan mudahnya akan membangun gedung baru dengan fasilitas yang tidak relevan dengan kerja mereka, sebuah kolam renang? dan tentu banyak yang menentangnya….kemudian renovasi toilet, penggantian sarana dan prasarana di ruang sidang badan anggaran….1 kursi seharga 235 juta fantastiskan!!! coba kita dapat membayangkan duduk dikursi seharga itu? Itu fasilitas untuk wakil rakyat, bagaimana dengan fasilitas untuk rakyat yang sebenarnya? Kita semua sangat kecewa….Banyak saudara2 yang hidup digaris kemiskinan…tidak punya rumah, hidup di kolong jembatan, rela ke luar negeri untuk jadi pembantu RT, dan bahkan ada fasilitas pendidikan yang sungguh memprihatinkan…layaknya sebuah kandang kambing….sungguh sangat ironi.

Gerbong Kereta Pemilu 2014

Apa jadinya jika perusahaan dipimpin oleh seorang yang sesungguhnya berkapasitas sebagai pegawai? Seorang yang menjadi presiden belum tentu memiliki sifat kenegarawanan….Menurut Indra Tranggono dalam Kompas (9/6/2012) mengemukakan bahwa seorang pemimpin yang berkapasitas negarawan bukanlah seorang pelancong kekuasaan yang menunggu kereta pemilu lewat, melainkan pencipta perubahan. Seseorang yang hanya sebagai pelancong kekuasaan tidak punya komitmen untuk mengelola kekuasaan itu dengan baik. Ada pepatah yang menyebutkan musang berbulu domba ….seseorang yang sepertinya negarawan (castingnya) ternyata hanya seorang makelar gerbong kereta partai….untuk mendulang pengaruh- pengaruh kekuasaan sehingga memudahkan terisinya pundi- pundi keuangan sebagai modal sambil menunggu Gerbong Kereta Pemilu. Banyak tokoh- tokoh yang berjiwa negarawan yang terjegal dalam menaiki gerbong pemilu ini….

Pemimpinan yang seperti ini akan menunjukan jiwa pemimpin yang mekanistik bukan organik..sifat yang inferior, powerless yang memunculkan budaya kambing hitam….kasihan sekali ini si kambing! Sehingga dalam masa kekuasaannya berdalih pengetatan anggaran untuk subsidi bagi rakyat ….alih- alih masuk kantong sendiri. ..apakah pemimpin seperti ini yang kita cari?celakanya lagi untuk memilih 1 orang dari lebih dari 250 juta penduduk sangatlah sulit kalau tidak dikatakan dipersulit….

Seorang negarawan harus dapat memimpin dengan pendekatan pemberdayaan dan pengembangan yang bersifat transformasi, mentranformasi idealisme dan ideologinya sehingga terciptalah nilai (value creation)…maka dalam kepemimpinannya ada bukti nyata tentang jorgan- jorgan yang disampaikan kepada penumpang saat dia menaiki gerbong pemilu tadi…Bagaimana dengan Tokoh Mudah ? Dalam sejarah kita mengenal Sukarno disaat usianya 25 tahun sanggup pemimpin PNI salah satu partai politik yang sangat berpengaruh dijaman revolusi. Jenderal Besar Soedirman umur 29 tahun sudah sangat disegani, Sultan HB IX, diangkat menjadi raja umur 28 tahun…jadi bagaimana para pemuda, tidak menunggu diberi kesempatan tetapi menciptakan kesempatan.

Jabatan Menghambat Empati

Menurut hasil penelitian Prof.Adam Galinsky dari The New York University ternyata menjadi pejabat atau orang yang memiliki kekuasaan dapat menghambat rasa empati. Penelitian dengan sampel para pimpinan perusahaan yang mereka rata- rata berpendidikan tinggi mayoritas didapati sulit mengenal emosi orang lain disekitarnya atau tidak tanggap terhadap lingkungannya.

Demi menghalangi penggusuran....karena oknum pejabat yang tidak berempati?

Bagaimana dengan rakyat? Pernah suatu ketika ada seorang ibu yang sedang naik bus umum sambil menggendong anaknya…karena bus tersebut penuh maka dengan terpaksa ibu berdiri…melihat hal itu bapak kondektur meminta kesediaan para laki- laki yang duduk untuk bersedia memberikan tempatnya bagi ibu ini. Beberapa kali ditawarkan tetapi tak satupun laki-laki yang bersedia berdiri untuk memberikan kesempatan ibu yang menggendong anak ini duduk….Kesal karena tak ditanggapi, Pak Kondektur mencoba mencolek laki- laki yang memakai seragam sekolah SMA….apa yang dilakukan anak SMA tersebut …berpura- pura tidur….Tak patah semangat Bapak Kondektur ini menyolek seorang pemuda yang tinggi tegap layaknya seorang militer yang tengah duduk santai dekat seorang Selengkapnya Baca → “ Jabatan Menghambat Empati

Kapitalisme Sudah Mati; Hidup Kapitalisme !!!

Itu judul sebuah tajuk pada harian terkemuka Inggris, Financial Time yang terbit pada akhir desember 2011. Krisis yang terjadi di Yunani dan berimbas hampir ke seluruh Negara- negara Eropa membuktikan ketidakkonsistensinya sistem ekonomi liberal atau lebih tepatnya kapitalisme yang selama 200 tahun mencari bentuk yang berkombinasi dengan demokrasi liberal.

Amerika Serikat di era kepemimpinan Ronald Reagan kurang lebih tahun 1980an, mulai menghembuskan paham baru tentang neoliberalisme yang kemudian di amini oleh PM Inggris saat itu Si Tangan Besi Margareth Thatcher dua negara yang saat itu menjadi icon ekonomi. Dengan paham neoliberalisme ini, ekonomi pasar dilepas dari kekuasaan dan pengaruh negara/ pemerintah dengan melakukan privatisasi perusahaan- perusahaan milik negara. Sehingga dihembuskan angin globalisasi dunia… pasar bebas.

Berakhirnya perang dingin dan keruntuhan Uni Soviet serta runtuhnya Tembok Berlin makin mengokohkan kecongkakan dominasi ekonomi negara barat dengan mencengkeram ekonomi dunia yang memuluskan the spread of neoliberalism.  Dengan dibarengi kemajuan teknologi informasi sehingga tidak lagi mengenal batas dimensi tempat dan waktu. Sehingga mengaplikasikan adanya pasar bebas menjadi sebuah keniscayaan pada suatu negara.

Krisis di Eropa pada belakangan ini di awali dengan ambruknya Lembaga Perbankan investasi terbesar keempat di AS yaitu Lehman Brothers pada tahun 2008, yang bukan saja lembaga keuangan yang mengalami dampaknya tetapi negara, seperti AS, Portugal, Spanyol, Italia dan Yunani. Bahkan AS mengalami penurunan peringkat utang dari AAA menjadi AA yang dikeluarkan oleh Standard & Poor’s yang diikuti oleh negara eropa seperti Perancis.

Kapitalisme bentuk kepemilikan modal yang dimiliki dan digunakan/diinvestasikan swasta terserah akan digunakan untuk apa oleh swasta itu (pemilik modal)..apa mau gua… jadi pemilik modal yang terus untung/ tumbuh/ berkembang (visioner) akan turut mengarahkan kalau boleh dikatakan menyetir ekonomi. Dimana Negara? yaitu tadi disetir oleh pengusaha2, ini pemahaman saya…. Modal yang diinvestasikan dikatakan sukses berarti memperoleh laba dan gagal berarti rugi…..perusahaan yang berkembang yang banyak diburu konsumen dan sebaliknya….. ini menurut peraih hadiah nobel ekonomi Edmund S Phelps.

Disaat ekonomi Eropa mengalami krisis,  pertumbuhan ekonomi dikawasan asia atau tepatnya khusus NEGARA CINA mengalami kenaikan yang signifikan….. oya saya ulangi lagi bukan seluruh Asia tapi perkembangan ekonomi negara Cina semakin naik …. Silahkan kita menilai sendiri- sendiri tentang kemanjuran ism- ism tersebut mana yang akan kita pilih (emangnya sudah jadi Presiden ?……)

Kita masih ingat krisis yang melanda Asia… tidak ada yang tidak menderita, Bapak Suharto saja bisa lengser gara- gara ini…… semua terkena dampaknya….keterpurukan rupiah terhadap dolar … menimbulkan berbagai upaya dari individu golongan menengah yang terkena PHK untuk suvival, timbul upaya swadaya menopang ekonomi dengan mendirikan warung- warung tenda, dan banyak kisah sukses setelah terPHK akibat krisis 1997…..inilah bentuk daya tahan ekonomi kerakyatan terhadap krisis atau boleh menyebutnya Manajemen Merah Putih yang seharusnya…..