Tulisan Terbaru

Tautan

logougm-150  MMUGMSidebar150

MMUGM Kelas Diknas

Rasa Syukur kepada Allah swt yang telah memberikan berjuta nikmat dan kesempatan kepada saya untuk dapat mengenyam pendidikan S2 di UGM melalui program beasiswa penuh kerjasama Kemdikbud dan UGM tahun 2011. Dari perkuliahan hingga pelaksanaan tesis Alhamdulillah lancar ditempuh selama 1 tahun 3 bulan dan Matrikulasi Oktober sd Desember. Banyak hal yang sangat berharga yang didapat selama masa perkuliahan yang tentu bermanfaat bagi bagaimana mengelola diri dan organisasi. Sekarang kembali lagi melakukan aktivitas rutin bekerja,mendidik anak bangsa. Selengkapnya Baca → “ MMUGM Kelas Diknas

Ismail-Ismail yang Kita Miliki

Hari Raya Idul Adha atau yang lebih dikenal dengan Hari Raya Kurban hanyalah sebuah simbolis bentuk ketaqwaan insan (Nabi Ibrahim as) terhadap Rabbnya. Hal ini perlu diaktualisasikan dalam kehidupan, dalam keseharian yang sangat jelas masih relevan untuk diteladani.

Keteguhan Nabi Ibrahim dalam memegang prinsip,prinsip tauhid. sebagaimana tertera dalam QS. At Taubah:114.,tidak putus asa, bersikap lemah lembut pada sesama. Ibrahim sebagai keluarga yang demokratis dan terbuka.

Bagi kita berkorban ibaratnya bagaimana kita menyembelih watak dan tabiat kehewanian kita, seperti mau menang sendiri, tamak, rakus, bakhil dan arogan. Sehingga kita semakin terasa rasa empati terhadap saudara2 kita yang kurang beruntung, sikap selalu ingin dekat dengan Allah dapat mendayagunaka potensi diri sehingga ibadah yang dilakukan menjadi sempurna.

Pengorbanan adalah inti dari keberagaman. Kita dapat beribadah dengan baik dengan mengorbankan kesenangan, waktu, harta. Peristiwa kurban sebuah simbolik. Ibrahim memiliki Ismail. Kita pun memiliki ismai-ismail yang berupa keluarga, istri anak harta benda yang berlimpah, pangkat, jabatan. Bagaimana ismail-ismail itu akan melenakan kita serta terbuai sehingga melanggar aturan, ketentuan moral.

Kita berharap agar ismail-ismail yang kita miliki dapat menyelamatkan kita dunia akhirat.

Kota Tua Jakarta (Oud Batavia)

Liburan, kesempatan jalan-jalan bersama keluarga. Berlibur sambil memperkenalkan anak kepada lingkungan dan budaya. Mengunjungi Kota Tua Jakarta, sebagai salah satu museum yang menandai geliat kota Batavia saat itu dan juga tidak ketinggalan museum budaya salah satunya adalah museum wayang.

Wayang sebuah media yang berbasis masyarakat pada jamannya merupakan media yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan. Pertanyaannya adalah bagaimana mengemas kemasan wayang sehingga disukai oleh anak (dibaca generasi muda). Kita (Kalau boleh dikatakan Pak Dalang) harus mau menyelam dalam lautan pergaulan kawula muda…yang serba digital…simple..praktis…IT…

Pada museum wayang yang ada di Kota Tua Jakarta terdapat bermacam-macam jenis wayang, baik bahan bakunya (rumput, kulit, kertas dll) maupun asal daerah.Bentuk dan rupa wayang itu sendiri mengalami berbagai transformasi, menyesuaikan diri dengan dinamika zaman dan tempat dimana ia berkembang. Mulai dari wayang batu, wayang kulit, wayang golek, wayang klithik, wayang beber, hingga wayang orang dan masih banyak lagi. Antusias anak dengan bertanya bagaimana menggerakannya, bagaimana memainkannya, apakah bisa ngomong, gunanya untuk apa?

Wayang sebagai media sosialisasi saat itu (pada jamannya) sebenarnya masih sangat aktual pada jaman sekarang dalam artian bisa disukai oleh anak terutama, tinggal bagaimana mengemas wayang menjadi menarik, misalnya dengan menambahkan motor/ listrik untuk menggerakanya, semacam remote control, walaupun cuma tangan yang bergerak2. Apalagi anak dapat berpartisipasi didalamnya.

Keluar dari pakem? saya kira tidak sebagai upaya untuk melestarikannya perlu tranformasi sesuai dengan keadaan jamannya. Pakem gamelan sebagai ciri utama harus ada, tapi dimungkinkan juga menggunakan piano,gitar dan sejenisnya. Sehingga nanti akan lahir wayang beraliran rock…atau apalah. Penyanyinya pun tidak harus duduk dengan manisnya mungkin sedikit ada gerak…terbayang ndak ya?

Instrumen Profil Organisasi Pembelajar

Mengeksplor profil organisasi pembelajar menurut MJ. Marquardt, dilakukan dengan menggunakan instrumen yang terdiri dari 5 komponen yang masing- masing komponen mempunyai 10 item pertanyaan. Komponen tersebut adalah (1) Belajar dinamis: individu, kelompok atau tim, dan organisasi memperoleh data tentang seberapa jauh organisasi belajar mengembangkan belajar secara dinamis mulai dari individul, kelompok dan organisasi, (2) Transformasi Organisasi: Visi, Budaya, Strategi dan Struktur memperoleh data tentang seberapa besar organisasi telah memiliki dasar yang kuat untuk menjadi organisasi belajar sehingga shared vision akan tercapai, (3) Pemerdayaan orang: manager, karyawan, pelangan, mitra, pemasok dan kuminitas kemampua organisasi dalam memberdayakan sumber daya yang ada dalam organisasi namun pembagian tugas dan wewenangan masing-masing unit (4) Pengelolaan pengetahuan: akuisisi, penciptaan, penyimpanan, pemulihan, dan pemamfaatan adalah pengetahuan yang ada pada diri organisasi dalam meng creat, storage, menganalisa, menstranfer, mengimplementasikan dan mengumpulkan data/ informasi baik didalam dan luar organisasi (5) Aplikasi teknologi: sistem informasi pengetahuan, teknologi berbasis belajar, dan sistem kinerja dukungan elektronik , memanfaat sumber dari teknologi informasi, menguasai pengoperasian ICT. berikut Contoh pertanyaan untuk Dinamika Pembelajaran Individu, Kelompok atau Tim, dan Organisasi:

Klik disini
Berikut untuk point ke dua tentang Transformasi Organisasi: Visi, Budaya, Strategi, Struktur
Klik disini
T: instrumen organisasi pembelajar,dinamika,knowledge,teknologi
D: organisasi pembelajar menurut MJ. Marquardt instrumen yang terdiri dari 5 komponen yang masing- masing komponen mempunyai 10 item pertanyaan

Masih tentang Dualisme Sistem Pendidikan Nasional, Desentralisasi dan Sentralisasi

A. Pendahuluan

Sentralisasi dan Desentralisasi Pendidikan

Dualisme pengelolaan pendidikan terjadi pada pembinaan yang dilakukan oleh dua kementrian yaitu Kemdikbud dan Kemenag. Pembinaan Madrasah di bawah naungan Kemenag berhadapan dengan sekolah umum di bawah pembinaan Kemdikbud sering menimbulkan kecemburuan dan insinkronisasi pengelolaan komponen pendidikan. sejak di tingkat (SD dan MI) hingga perguruan tinggi. Dari alokasi dana, perhatian, pembinaan manajerial, bantuan buku dan media pembelajaran, serta penempatan guru, hingga pemberian beasiswa pendidikan lanjut sering tidak sama antara yang diterima oleh sekolah umum (Kemdikbud) dengan madrasah (Kemenag).

B. Tentang Pendidikan di bawah Kemenag (Kembali ke Fitrohnya)
Departemen Agama RIFakta di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan dalam dunia pendidikan akibat dari tidak bersatunya dalam pengelolahan sistem pendidikan ini. Banyak yang berpendapat sekolah yang di bawah asuhan Kemenag memiliki kualitas yang tidak lebih baik dibanding dengan sekolah yang ditangani oleh Kemdikbud. Sistem sentralisasi yang diterapkan Kemenag Misalnya, ketika pihak IAIN/ STAIN mengajukan permohonannya untuk berubah menjadi Univeritas Islam Negeri (UIN) terjadi perdebatan yang sangat alot antara Kemdikbud dan Kemenag. Menurut perundangan yang berlaku, maka Universitas hanya ditangani oleh Kemdikbud. Dengan demikian akan ada pengalihan anggaran dari Kemenag ke Kemdikbud khususnya yang terkait dengan perubahan status dariIAIN/ STAIN menjadi Universitas. Tetapi, seperti yang kita saksikan saat ini, STAIN yang telah berubah menjadi Universitas secara struktural tetap ditangani Kemenag, namun untuk program studi non-agama dalam pelaksanaannya di bawah pembinaan Kemdikbud. Sehingga perjalanan UIN akan mengalami banyak hal yang dilematis, karena harus mengikuti sistem pendidikan yang berlaku di Kemenag maupun di Kemdikbud. Program studi umum di UIN akan memiliki kualitas rendah dibanding dengan program studi yang di bawahkendali Kemdikbud. Salah satu faktor penyebabnya adalah Kemenag tidak memiliki atau kekurangan tenaga yang ahli di bidang non-agama. Sementara kalau mengikuti aturan di Kemdikbud itu hanya sebatas konsultasi (baca: pembinaan) saja sehingga kurang maksimal dan dalam pelaksanaannya cenderung hanya formalitas saja. Beberapa artikel tentang rendahnya mutu pendidikan di bawah Kemenag:

C. Desentralisasi Pendidikan di Kemdikbud

Pelaksanaan otonomi pendidikan menghadapi banyak hambatan yang perlu segera dipecahkan bersama. Berbagai hambatan yang muncul disebabkan perbedaan tingkat komitmen daerah dalam pengembangan pendidikan, lemahnya profesionalisme daerah dalam mengelola pendidik dan tenaga kependidikan, perbedaan interpretasi antara kewenangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta insinkronisasi pengelolaan komponen pendidikan yang berada di bawah Kementerian Agama dengan komponen pendidikan di bawah pemerintah daerah dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sehingga sekarang banyak usulan untuk sentralisasi pendidikan. Kemungkinan ini yang menyangkut politisasi guru dan tenaga kependidikan oleh kepala daerah. Sesungguhnya bahwa desentralisasi pendidikan sangat perlu yang pasti tidak menyeluruh tetapi secara parsial.Yaitu pada daerah- daerah yang tingkat kesiapannya mencukupi (baik dana maupun SDM/ pemahaman/ interprestasi),kemungkinan desentralisasi sampai sampai tingkat propinsi.

D. Solusi untuk permasalahan

Perombakan Sistem Birokrasi Pendidikan dengan memasukan semua sekolah- sekolah dibawah Kementrian Agama maupun sekolah- sekolah kedinasan kedalam Kemdikbud.

Merombak sistem birokrasi pendidikan Salah satunya adalah mengenai struktur dan sistem birokrasi pendidikan. Secara menyeluruh pendidikan di Indonesia ditangani oleh Kementeri Pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud) di bawah kendali Menteri Pendidikan dan kebudayaan. Tetapi, dalam prakteknya banyak juga penyelenggaraan pendidikan yangdikendalikan oleh Departemen atau intansi lain, seperti Departemen Agama (Kemenag)membawahi sekolah yang berlabel Madrasah dan Kampus Islam (STAIN), Departemen Keuangan membawahi STAN, dan departemen- departemen lain yang membawahi sekolah-sekolah kedinasan. Terkait hal ini, penulis mencoba menelorkan wacana dalam dunia pendidikan, yakni memberikan dua pilihan untuk kembali melakukan perombakan sistem birokrasi pendidikan kita. Hal ini dimaksudkan agar sistem pendidikan kita benar-benar profesional dan lulusan yang dihasilkan juga profesional. Semestinya, kalau berpijak pada landasan fungsional Kemdikbud di tanah air ini, tentunya memiliki tugas untuk mengurusi segala yang berhubungan dengan pendidikan, mulai dari tingkat dasar,menengah, hingga perguruan tinggi. Baik itu yang berbentuk pendidikan formal maupun non formal. Kesemuanya itu seharusnya ditangani oleh pakar-pakar pendidikan yang tergabung dalam Kemdikbud.Dengan demikian, maka tidak akan ada Depertemen lain yang mengurusi pendidikan.

Kalau memang sistem yang diterapkan demikian,maka struktur dalam tubuh Kemdikbud menjadi gemuk. Tetapi agar professional, maka harus dibentuk sub-sub yang menangani bidang-bidang tertentu. Misalkan Sub pendidikan agama yang mengurusi IAIN/ UIN, sub bidang ekonomi yang menangani jurusan- jurusan ekonomi, sub bidang Riset dan Teknologi membawahi jurusan Teknik, dan seterusnya.

Namun apapun keuntungan yang akan diperoleh, pandangan tersebut pasti akan melahirkan pro dan kontra di kalangan masyarakat luas. Hal itu adalah biasa, bahwa pada setiap terjadi perubahan mendasar di tengah masyarakat selalu terjadi. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi, negosiasi, agumentasi, dan deplomasi dengan berbagai kalangan secara intensif terus menerus. Selain itu, apapun kiranya perlu dikemukakan untuk membuka pandangan dan cakrawala berepikir, sebagai upaya mencari bentuk pengelolaan pendidikan yang terbaik.

Sumber

1. Pendidikan dalam Sistem Perpolitikan di Indonesia (SISTEM SENTRALISASI VS DESENTRALISASI), Penulis : ISMAIL & LUGTYASTONO BN

2. Sistem Pendidikan Nasional ( UU RI No 20 Tahun 2003 ) beserta peraturan pelaksanaanya. 2003. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.